Budidaya Itik Pedaging Ciawi

 Inspirasi Bisnis

Itik pedaging dari Ciawi dengan sebutan itik ePMp pada usia 8 minggu mempunyai bobot seberat 2,3 – 2,5 kg, bobot yang lebih besar dari itik biasa dan layak untuk dibudidaya. Bibit itik ePMp merupakan persilangan dari pejantan entok dengan betina PMp.Itik jumbo

PMp merupakan itik pedaging unggul yang dirilis Balitnak pada 2010. Secara genetis dalam diri itik itu mengalir darah pejantan peking dan betina mojosari putih. Peking dipilih lantaran pertumbuhan bongsor. Menurut Ir Dani Garnida MP dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung, bobot peking mampu mencapai 3—3,25 kg dalam waktu 2 bulan.  Umur 10 bulan bisa mencapai bobot 3,6 kg.

Sayang produktivitas telur betina sebagai bahan DOD (day old duck) rendah, 130—160 butir per ekor per tahun.  Kelemahan itulah yang coba diatasi dengan mengawinkan peking dengan mojosari putih. Hasilnya PMp dengan produkvitas telur pada betina mencapai 230—240 butir per ekor per tahun. Sementara pejantan PMp mampu mencapai bobot 2 kg pada umur 10 minggu. Selain bongsor, keunggulan lain itik warna putih itu mempunyai karkas bersih dan cerah. “Hal itu disukai konsumen karena warna daging terlihat bersih,” kata Hardi.

Silsilah bongsor

Keunggulan betina PMp itu kemudian disandingkan dengan keandalan pejantan entok untuk menghasilkan ePMp. Menurut periset di Balitnak, Dr Maijon Purba MSi, entok mewariskan sosok tubuh besar. Bobot badan Cairina moschata jantan dewasa pada umur 22 minggu bisa mencapai 4—5,5 kg. “Selain itu daging entok jauh lebih tebal bila dibandingkan dengan daging itik lokal,” ungkap Maijon.

Riset untuk melahirkan ePMp dimulai sejak 2011. Untuk mengawinkan entok dengan PMp, Maijon memanfaatkan inseminasi buatan (IB). Sosok kedua induk yang berbeda menyebabkan sperma entok banyak tercecer jika dikawinkan alami sehingga tingkat pembuahan rendah. Sebagai pejantan digunakan entok pejantan berumur 8 bulan. Sperma satu ekor pejantan entok bisa dimanfaatkan untuk membuahi 8 ekor betina PMp.

Hasil perkawinan itu melahirkan ePMp dengan sosok sebagian menyerupai sosok entok dan sisanya menyerupai sosok itik. Leher panjang dengan warna bulu  didominasi putih ataupun putih dengan bercak-bercak hitam di sekujur tubuh.  Warna terakhir lebih dominan. Menurut Maijon dari 24 kelompok masing-masing berisi 10—12 ekor, hanya sebanyak 3 kelompok ePMp didominasi warna bulu putih bersih.

Pertumbuhan itik baru itu optimal jika disertai dengan pemberian nutrisi pakan  yang tepat. Sampai umur 3 minggu, anakan ePMp butuh pakan dengan kadar  protein 19% dan kadar energi 2.900 kkal/kg. Komposisi itu berubah ketika itik memasuki umur 4—10 minggu. “Kadar protein 16%  dengan kadar energi  sama,” tutur Maijon, doktor nutrisi dan teknologi pakan dari Institut Pertanian Bogor itu. Kadar protein tinggi pada masa awal pertumbuhan dibutuhkan untuk pertumbuhan otot dan massa tubuh itik.

FCR turun

Menurut Maijon, semula nilai FCR (food conversion ratio) ePMp tergolong tinggi, mencapai 4—4,5. Artinya, untuk   menghasilkan satu kg bobot itik dibutuhkan 4—4,5 kg pakan. Itu sama dengan FCR itik pejantan lokal. Tingginya angka FCR jelas menjadi masalah buat peternak karena menyebabkan biaya pakan melonjak. Jika harga 1 kg pakan dengan kadar protein 18% dan kadar kalori 2.900 kkal mencapai Rp6.000, maka untuk

mencapai penambahan 1 kg bobot itik dibutuhkan minimal Rp24.000. Biaya pakan biasanya menghabiskan hingga 60% biaya produksi.

Oleh karena itu Maijon beserta tim berupaya menurunkan rasio konversi pakan itu. Hasilnya pada 2012, FCR berhasil diturunkan menjadi 3,25. Toh, penurunan itu tidak menurunkan kecepatan tumbuh  ePMp.  Pada umur 8 minggu bobot ePMp mencapai 2,3—2,5 kg per ekor. Sementara umur 10 minggu bisa mencapai 2,7 kg. Itik umur 8 minggu menghasilkan karkas sebanyak 1,6 kg. Sementara pada umur 10 minggu bobot karkas mencapai 1,8 kg.

Bandingkan karkas itik lokal berbobot 1,6 kg yang hanya 1,1 kg. Besarnya karkas terlihat dari potongan paha yang mencapai 352 g per buah. Sementara itik biasa paling 200—250 g per buah.  Gemuknya karkas juga terlihat dari dada yang mencapai 432 g serta sayap 245 g per buah.

Keunggulan lain tekstur daging lembut serta warna dagin putih. Hal itu membuat daging bebek bersih dan tidak kotor. Menurut Maijon, warna daging putih menjadi preferensi konsumen. Hasil tes pasar oleh periset di Balitnak menunjukkan respon konsumen cukup baik. “Pembeli kerap bertanya kapan lagi ada pasokan karena bebeknya bersih dan gemuk,” tutur Maijon. Pantas jika di masa mendatang itik unggul dari Ciawi itu menjadi favorit peternak dan konsumen.

Author: 

No Responses

Comments are closed.