Home > Herbal > Ikan Gabus Sumber Albumin

Ikan Gabus Sumber Albumin

Posted on by

Dahlan Iskan yang juga menteri BUMN juga mengandalkan ikan Gabus sebagai sumber albumin untuk dirinya.

Ikan GabusEddy yang meneliti khasiat albumin sejak 1995 itu lantas menyarankan Dahlan mengonsumsi ikan gabus yang banyak mengandung albumin. Ikan gabus dikonsumsi sebagai lauk setelah terlebih dahulu dikukus. “Saya tidak begitu ingat, tapi sekitar sebulan rutin mengonsumsi beliau terlihat lebih sehat dan segar,” ujar penggemar musik campursari Gathok itu. Sampai saat ini sepengetahuan Eddy, Dahlan Iskan masih rajin mengonsumsi ikan gabus, tapi dalam bentuk kapsul.

Albumin turun

Apa sesungguhnya albumin yang dikonsumsi Dahlan Iskan? Menurut dokter spesialis gizi klinis dari Universitas Hasanuddin di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Prof Dr dr Nurpudji Astuti Daud MPH, SpGK, albumin merupakan plasma protein tubuh yang jumlahnya separuh dari total protein di tubuh sebesar 7,2—9 g/dl. Sebagai plasma protein peran albumin yang mengandung 16 asam amino itu demikian vital mulai dari penyusun struktur sel, antibodi, enzim, hingga hormon. “Albumin disintesis oleh sel hati dan dikeluarkan langsung ke pembuluh darah tanpa disimpan,” ujar istri Drs Taslim Arifin MA itu.

Nurpudji menjelaskan penderita penyakit akut dan berat seperti kanker, gagal ginjal, dan stroke, mengalami kadar albumin rendah di darah, kurang dari nilai standar sebesar 3,5—5 g/dl. Itu pula dialami oleh Dahlan Iskan. Dampak rendahnya kadar albumin menyebabkan tekanan osmotik darah turun sehingga pengangkutan asam lemak, obat, hormon, dan enzim terganggu. “Akan terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan organ tubuh yang menyebabkan edema atau pembengkakan,” ujar Nurpudji. Pada pasien gagal ginjal, misalnya, pembengkakan tampak jelas di kaki.

Bagaimana jika konsumsi albumin berlebihan atau hiper albumin? Apakah membahayakan tubuh? Florentinus Nurtitus, ahli gizi dari Rumahsakit St Elizabeth di Semarang, Jawa Tengah, mengatakan bahwa ketika pasokan albumin berlebih, tubuh akan menyimpannya sebagai massa otot. Selama menangani pasien, Nurpudji juga belum pernah menemukan kasus hiperalbumin atau kadar albumin melebihi ambang batas. Sementara Eddy Suprayitno mengatakan bahwa orang sehat pun aman konsumsi albumin sebagai suplemen.

Penderita penyakit berat perlu memperoleh albumin dari luar tubuh untuk mencegah organ-organ penting di tubuh rusak akibat terbenam cairan. Apalagi sintesis albumin di tubuh sedikit. Sumber albumin antara lain telur, daging, susu, dan gabus serta kacang-kacangan. Riset oleh Eddy Suprayitno menunjukkan kandungan albumin pada gabus tinggi, sebesar 62,24 g/kg; bandingkan dengan telur 9,34 g/kg. Pada kasus kanker hati  seperti dialami Dahlan Iskan terbukti konsumsi albumin dari gabus mujarab menghambat kerusakan hati lebih parah.

Riset Agus Heri Santoso saat menempuh studi master di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada 2008 memperlihatkan albumin ikan gabus berperan sebagai hepatoprotektor yang mampu mencegah degenerasi sel hati. Uji yang dilakukan pada tikus putih itu juga mengungkapkan kandungan penting lain albumin sebagai antioksidan (baca: Sang Penyelamat Hati halaman 20—21).

Infus mahal

Kehadiran albumin dari luar tubuh memang penting bagi penderita penyakit berat. Namun, kendala utama adalah harganya mahal. Nurpudji menuturkan pasien penyakit berat di rumahsakit biasanya diberikan infus albumin atau human albumin untuk mencegah pembengkakan. Sayangnya, harga infus albumin itu mahal mencapai Rp4,5-juta untuk 4 kali pemakaian. Harga mahal itu karena infus albumin memakai protein plasma dari darah manusia. “Banyak pasien mengeluhkan mahalnya harga infus albumin,” ujar Nurpudji.

Alternatifnya adalah mengonsumsi albumin yang berasal dari bahan lain. Pilihannya jatuh pada albumin ikan gabus Chana striata yang beredar di pasar dalam bentuk kapsul, cair, dan jel. “Khasiatnya sama dengan kadar albumin mencapai 21% dan harga lebih murah,” kata Nurpudji. Sebagai gambaran 30 kapsul albumin ikan kutuk—sebutan ikan gabus di Jawa—seharga Rp180.000 setara manfaatnya dengan sebotol infus albumin.

Itu yang dibuktikan Ir Ashari Nitisastro di Bandung, Provinsi Jawa Barat. Menurut sang istri, dr Hj Etty Purnama Larasati, suaminya menderita kanker kandung kemih pada 2008. Salah satu dampaknya Ashari mesti menjalani operasi penangkatan ginjal kiri. Namun, sebelum operasi berjalan Ashari harus mencapai kadar albumin ideal. Hal itu semata-mata untuk mencegah kondisi drop pascaoperasi akibat pasien kehilangan darah dan cairan yang cukup banyak.

Atas saran seorang kerabat, Ashari mengonsumsi ikan gabus kukus. Dua pekan mengonsumsi albumin gabus, kadar albumin darah yang semula 2,9 g/dl mendekati normal. “Bapak bosan makan segar, jadi beralih meminum kapsul sebanyak 6 butir sehari,” ujar Etty. Genap tiga pekan sesudah konsumsi pertama Ashari bisa menjalani operasi. Tidak seperti pasien lain yang perlu pemulihan pacsaoperasi hingga sepekan, Ashari pulih dalam waktu 3 hari. “Bapak sudah jalan-jalan. Ini membuat dokter di rumahsakit kaget,” ujar Etty. Pun saat Ashari mesti rutin menjalani kemoterapi, efeknya ia segera bugar.

Ursula Krisnawangsa yang pada 2007 menderita penyakit gagal ginjal memiliki pengalaman serupa. “Perut saya mengembung karena pembengkakan sampai dikira hamil,” kata ibu rumahtangga di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Oleh sebab ia mesti menjalani cuci darah dan kadar albumin tubuhnya selalu di bawah batas normal. Efeknya Ursula merasa tubuh lemas. Ursula yang berkonsultasi dengan ahli gizi di Bogor kemudian disarankan mengonsumsi putih telur untuk mendongkrak kadar albuminnya.

Belakangan Ursula jenuh dan pindah mengonsumsi ikan gabus. “Saya memakannya selama 2 tahun,” kata Ursula. Kondisinya pascakonsumsi ikan gabus cukup menggembirakan. Perut yang membengkak mulai kempis dan tubuhnya lebih bugar. Berikutnya guru sekolah dasar itu beralih mengonsumsi albumin dalam bentuk kapsul dengan alasan kepraktisan. “Saya kadang kala bepergian sehingga kapsul lebih mudah dibawa,” kata Ursula yang rutin mengonsumsi 6 kapsul setiap hari itu.

Kondisi membaik pascakonsumsi albumin juga dialami Sumami (diabetes mellitus) di Kediri, Wijiyanto (lupus) di Jember, dan Yusuf Benjamin (stroke) di Surabaya—semua di Jawa Timur. Menurut pengamatan Nurpudji terhadap beberapa kasus yang ditemuinya seperti pasien diabetes, tuberkolusis, gagal ginjal, sirosis hati, kanker, dan stroke, penderita stroke lebih cepat mencapai kadar albumin normal. Duduk perkaranya masih perlu diteliti. Sebagai gambaran menurut Etika, istri Yusuf Benjamin, kadar albumin suaminya normal setelah 5 hari mengonsumsi 3 kapsul 2 kali sehari.

Menyebar

Riset albumin berkaitan langsung dengan penyakit hingga kini masih minim. Riset lebih banyak menyorot pengaruh albumin terhadap nutrisi di tubuh. Salah satu penelitian itu mengungkapkan peran albumin dalam hubungannya dengan status gizi penderita human immunodeficiency virus (HIV). Riset Restiana dan kawan-kawan dari bagian gizi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin membeberkan pemberian kapsul ikan gabus sebagai protein alternatif selama 5 pekan dapat meningkatkan energi dan protein, serta meningkatkan kadar albumin dan memperbaiki status gizi pasien HIV.

Penelusuran Trubus juga memperlihatkan riset berkaitan dengan cara olah dan produksi lebih banyak dijumpai. Hal itu lebih disebabkan pemanfaatan ikan gabus digolongkan sebagai terapi nutrisi. “Pemakaiannya condong sebagai stimulan penyembuhan, ibarat suplemen,” kata Nurpudji Astuti. Itu pula yang dilakukan Florentinus Nurtitus, yang memberikan ekstrak cair ikan gabus untuk pasien yang berkonsultasi dengannya.

Kabar baiknya produk-produk ikan gabus tidak sulit dijumpai di pasaran dengan kisaran harga Rp125.000—200.000. Bima Wicaksono (Jember) dan Stopia Wanita STP (Malang), keduanya produsen kapsul ikan gabus, sepakat animo masyarakat terhadap produk ikan gabus terus meningkat dalam 2 tahun. “Harga produknya tidak mahal dan manfaatnya besar,” kata Stopia. Itulah yang dibuktikan oleh para pasien berbagai penyakit di berbagai daerah. Seperti kata Bapak Kedokteran, Hipokrates, jadikan makananmu sebagai obatmu.

Comments are closed.