Home > Burung Berkicau > Adu Merdu Burung Berkicau Juara di Kontes Nasional

Adu Merdu Burung Berkicau Juara di Kontes Nasional

Posted on by

Kacer HitamKontes Burung berkicau tingkat nasional dengan total hadiah ratusan juta rupiah dibanjiri peserta dengn jumlah mencapai 3.000 peserta kontes.

Burung kacer yang bernama Bajing Ireng yang terlihat ramping dengan bulu hitam yang berkilau dengan semburat putih menyala dibagian sayap tampil sangat memukau selama 30 menit. Kacer Copsycus Saularis yang bernomor urut 50 tersebut berkicau tanpa jeda selama 30 menit dengan irama dan lagu bervariasi. Sang pemilik kacer Zoe Bakoeng tidak menyangka Bajing Ireng (Kacer hitam yang ikut kontes) mendapatkan juara Best of the best mengalahkan pesang dari Tim Jayakarta denga kacer hitm unggulan bernama Dewi Persik.

“Burung itu memang layak menjadi juara. Buktinya selalu juara pertama dibanyak kontes,” ujar Faren, juri kontes yang kerap menjadi juri di berbagai daerah. Zoel mengatakan baru kali ini kacer koleksinya menang kontes di tingkat nasional. Sebelumnya burung itu berkali-kali menang di Sumatera. Pada kontes Piala Walikota dan Road to President—keduanya berlangsung di Jambi—kacer koleksinya meraih jawara pertama.

Kuncinya pakan

Zoel tidak memberi perawatan ekstra menjelang Kontes BnR Award II di Cibubur, Jakarta Timur, pada 3 Maret 2013. Ia memberi pakan berupa jangkrik dan kroto pada pagi dan sore.  Perawatan lain, ia memandikannya dua kali sehari dan mengganti air minum rutin setiap hari. Peraih gelar BOB lain adalah Bima Sakti di kelas murai batu. Copsychus malabaricus milik Den Bagus juga berkicau tanpa jeda. Kombinasi suara srindit, lovebird, dan cucak jenggot memukau juri dan penonton.

Di babak final, Bima Sakti mengandaskan Mabuk Laut yang tak kuasa menandingi variasi kicauan burung berumur 3,5 tahun itu. Den Bagus juga memberikan jangkrik sebagai pakan pada pagi dan sore. Bima Sakti mendapat jatah 10 jangkrik sekali santap. Perawatan lain adalah memandikan burung menjelang matahari tenggelam. “Dia baru mau dimandikan sore,” katanya. Pada pagi menjelang kontes, Bagus memberi pakan berupa 10 kroto dan seekor cacing.

Pada detik-detik sebelum kontes, Bagus kembali memberi pakan berupa tiga ulat hongkong dan 10 jangkrik. “Ulat hongkong yang membuat atraktif karena birahinya meningkat,” kata Bagus. Den Bagus selalu menerapkan kiat itu pada burung berwarna cokelat di bagian dada dan perut itu. Hasilnya Bima Sakti tampil atraktif di setiap kontes. Pada kontes sebelumnya, seperti Piala Gubernur, Sido Satu Sidoarjo, dan Piala Valentine juga meraih jawara pertama.

Kontes BnR Award II terdiri atas 26 kelas yang diikuti 17 jenis burung. Panitia kontes membagi dua area 4.500 m2 di Taman Rekreasi Wiladatika menjadi lapangan A dan B. Kedua area itu berbatas pagar besi. Di setiap lapangan, panitia melombakan masing-masing 23 kelas selama 20—30 menit.  Hujan deras pada pukul 12.30 sempat menghentikan kontes. Namun, para pehobi burung bersikeras agar kontes tetap berjalan.

Persaingan ketat

Burung-burung terbaik beradu merdu di kontes burung berkicau nasional itu. Red Lable, misalnya, lebih dari 100 kali menjadi juara kicauan. Di kontes BnR Award II, anis merah itu berada di kelas Jatijajar A yang diikuti 70 burung. Kemampuan mengungguli lawan mengantarkan Red Lable meraih jawara pertama. Pemiik Red Lable, Dedet, mengatakan,  “Perawatannya biasa saja, tetapi memang anis merah ini punya jiwa tempur tinggi.”

Ciblek bernama Edane juga terus berkicau sepanjang kontes berlangsung. Burung koleksi M Ari itu mengalahkan Nirvana milik Rizal. Sebaliknya di kelas Jatijajar B Rampok gagal memukau juri. Murai batu koleksi Sugiyanto yang dibeli Rp10-juta itu tidak membuatnya tembus 10 besar. Penyebabnya, murai batu berumur dua tahun itu kelelahan selama di perjalanan dari Tangerang ke Cibubur.

“Saya kesiangan. Baru berangkat pukul enam dari Tangerang,” ucapnya. Setelah tiba di Cibubur, Rampok baru melahap seekor jangkrik. Belum sempat menyantap jangkrik kedua, Sugiyanto menaikkan Rampok ke tiang gantangan untuk mengikuti kontes. Menurut  Muhammad Suharyoto yang kerap menjadi juri, “Modal penting bagi burung kontes adalah kualitas, kinerja, dan stamina.” Para kampiun di kontes itu memiliki ketiga faktor itu. Panitia mengganjar jawara BOB dengan uang Rp30.000.000, trofi, dan piagam kepada para kampiun.

Menurut ketua pantia, H. Elviano, peserta kontes mencapai 3.000 burung beragam jenis. Pada kontes itu pantia menabalkan Tim Jayakarta yang menurunkan beragam  burung di berbagai kelas menjadi juara umum untuk kategori bird club  mengalahkan Tim Sumatera. Panitia juga menobatkan 9  Naga dari Jakarta sebagai juara umum di kategori  single fighter.

Comments are closed.