Home > Buah dan Tanaman Hias > Tabulampot Unik dan Mudah

Tabulampot Unik dan Mudah

Posted on by

Pehobi tanaman buah saat ini mulai trend dengan membuahkan tanaman buah yang sebelumnya tak lazim ditanam didalam Pot, seperti yang dilakukan Hervin sasono yang menanam dan membuahkan pepaya kalifornia didalam pot.

TabulampotSebagai sumber nutrisi Hervin memberikan pupuk NPK dan mikro lengkap dengan EC 1,5. Frekuensi penyiraman 2—3 kali sehari, sekali siram 0,5—1,5 liter larutan siram. Tak disangka 5 bulan berselang, tanaman asal Amerika tengah itu berbuah. Harapan Hervin untuk menikmati pepaya dari pekarangan akhirnya kesampaian. Sayang, Hervin tak menimbang buahnya. Namun, menurut pengamatannya, sosok buahnya sama dengan yang ia lihat pada penanaman di lahan langsung, yakni 1—1,5 kg per buah.

Cocok di perkotaan

Menurut kepala Pusat Kajian Tanaman Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, Sobir PhD, tabulampot atau tanaman buah dalam pot pepaya milik Hervin bisa selamat dari serangan penyakit karena media tanam terisolasi pot. Akibatnya  terhindar dari kontaminasi bakteri yang ditularkan melalui tanah seperti antraknosa dan phytophthora. Tingkat serangan kedua penyakit itu bisa mencapai 100% alias menyebabkan seluruh tanaman mati. “Asalkan media tanam tabulampot yang digunakan harus steril,” ujarnya.

Namun, Sobir menuturkan untuk skala komersial tabulampot kurang ekonomis karena biaya produksinya tinggi. Contohnya seperti dialami Abdul Aziz Adam Maulida, pekebun pepaya kalifornia di Sukun, Malang, Jawa Timur. Ia membudiyakan 24 tanaman pepaya dalam pot.

Lima bulan setelah menanam Adam panen 4—5 buah setiap hari dari 24 pot. Bobot buah rata-rata 1—1,5 kg per buah. Dengan harga jual Rp4.000 per kg, Adam mengantongi Rp24.000 per hari. Hingga akhir masa produksi, yakni selama 3 tahun, Adam memanen rata-rata 80—90 kg per pot atau 30 kg per tanaman per tahun. Menurut Adam, jumlah produksi itu relatif sama dengan yang ia tanam di lahan. Sementara menurut Sobir, jumlah produksi itu tergolong tinggi. “Standarnya 50—70 kg per tanaman,” kata Sobir.

Adam mengeluarkan biaya produksi Rp15.000 per tanaman per tahun. Sementara jika ditanam di lahan, pria berusia 38 tahun itu hanya mengeluarkan biaya Rp10.000 per tanaman per tahun. Dengan harga jual sama, budidaya dalam pot menjadi kurang ekonomis. “Selisihnya di biaya pot,” kata Adam. Itulah sebabnya Adam kembali mengebunkan pepaya kalifornia di lahan.

Sobir menuturkan, meski membutuhkan biaya tinggi, budidaya tanaman buah dalam pot dapat menjadi pilihan warga yang tinggal di perkotaan yang tidak memiliki lahan luas. Anggota staf Pengembangan Tanaman Buah Tropis di Taman Wisata Mekarsari (TWM), di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Junaedi, mengungkapkan hal serupa.

“Dari hasil percobaan di Taman Wisata Mekarsari, kini semakin banyak pilihan tanaman buah yang dapat dibudidayakan dalam pot, bahkan beberapa di antaranya tidak lazim menjadi tabulampot,” ujarnya. Contohnya nanas. Di TWM, buah yang kerap dikebunkan secara luas itu mampu tumbuh subur dan berbuah. “Selain dapat dikonsumsi buahnya, juga bisa menjadi penghias pekarangan rumah,” tutur Junaedi.

Pisang

Untuk tabulampot nanas Junaedi menyarankan nanas yang daunnya tidak berduri   seperti smooth cayene. Junaedi membudidayakan nanas di dalam pot bermedia tanam berupa campuran tanah, pupuk kandang, dan sekam mentah dengan perbandingan 1 : 2 : 3. Sebagai sumber nutrisi, ia memberikan pupuk susulan berupa NPK dengan dosis    20 g atau 1 sendok makan per pot setiap 3—4 bulan sekali. Untuk membuahkan tanaman kerabat bromelia itu perlu perlakuan khusus (lihat ilustrasi).

Taman Wisata Mekarsari juga membudidayakan salak dalam pot.     Sayangnya hingga kini tanaman belum pernah berbuah meski berumur 2 tahun. “Pasalnya tanaman salak berasal dari biji. Jika ditanam di lahan saja baru berbuah pada umur 3 tahun,” tutur Junaedi. Penanaman tabulampot salak perlu naungan 75%. Selain itu pisang yang selama ini kerap dikebunkan dalam skala luas juga ternyata mampu berbuah di pot. Contohnya di kebun Eko Mulyanto, praktikus tanaman buah di Banyuwangi, Jawa Timur.

Ia membudidayakan masing-masing dua tanaman pisang morosebo, pandanseribu, dan pisang ambon. Buah itu pun mampu berbuah dengan jumlah sisir 7—8 pertandan. “Orang banyak yang meragukan kalau pisang bisa berbuah di pot, sekarang saya membuktikannya,” kata Eko.

Comments are closed.